Powered by Blogger.

Pengaruh Quantitative Easing (QE) Pada Nilai Mata Uang


Quantitative Easing atau QE adalah istilah yang sering digunakan di pasar keuangan beberapa tahun belakangan ini. QE adalah salah satu kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral suatu negara guna meningkatkan jumlah uang beredar (money supply) di pasar. Bagi sebagian analis, QE selalu dihubungkan dengan bank sentral Jepang (BoJ) yang menjalankan kebijakan ini pada tahun 2001 setelah menurunkan tingkat suku bunganya sampai dengan nol persen. Kemudian bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjalankan kebijakan ini.

                             

Pada dasarnya dengan kebijakan QE, bank sentral akan meningkatkan jumlah uang beredar dengan melakukan pembelian berbagai aset investasi termasuk surat-surat berharga dan saham guna membanjiri pasar keuangan dengan uang cash, hingga meningkatkan likuiditas mata uang negara tersebut. Dengan demikian laju inflasi akan meningkat sementara jumlah uang beredar yang meningkat akan makin memperlemah nilai mata uang. Tujuan dari QE adalah agar bank sentral sanggup memberikan kredit dan dalam jangka panjang tidak kekurangan.

Hasil yang diharapkan BoJ dari QE
Walaupun kebijakan QE pernah dijalankan oleh bank sentral Jepang, tetapi sebenarnya hal ini bukanlah cara yang baik. Dengan dasar pemikiran ini kita bisa menyimpulkan bahwa The Federal Reserve telah mempelajari hasil yang diperoleh Jepang dalam menerapkan kebijakan tingkat suku bunga nol persen tersebut sebelum akhirnya mengambil langkah yang sama.
Bank sentral Jepang mulai menerapkan konsep ini dalam kebijakan sistem moneternya ketika terjadi periode stagnasi dalam perekonomiannya antara tahun 2001 hingga 2006. Dengan tingkat suku bunga nol persen, bank sentral diharuskan untuk menerapkan suatu kebijakan baru yang bisa memerangi gelombang tingkat deflasi yang telah melanda. Deflasi adalah terjadinya penurunan tingkat harga secara keseluruhan dalam periode waktu tertentu. Jika kita telah tahu akan bahaya yang diakibatkan oleh tingginya tingkat inflasi, maka tingkat deflasi yang tinggi juga akan berakibat sama.

Di Jepang, BoJ melakukan ekspansi pembelian surat-surat berharga dan saham guna memudahkan mencapai targetnya dalam menjaga likuiditas moneter dan mengalirkan kredit secara normal. Pada tahun pertama ketika kebijakan QE diterapkan, USD/JPY naik 18.5% yang berarti Yen melemah terhadap US dollar, dan indeks saham Nikkei juga turun 28%. Antara tahun 2002 sampai akhir 2004, USD/JPY turun 22% pada saat perekonomian Jepang mulai stabil. Selama periode waktu tersebut, indeks saham Nikkei juga kembali menguat (recover) sebesar 20%. Walaupun kebijakan QE masih diperdebatkan keefektifannya, tetapi banyak pihak yang setuju bahwa cara ini bisa mengatasi akibat deflasi.


QE versi The Fed

Dengan tingkat suku bunga yang hampir nol persen (0.125% per Agustus 2009), The Fed secara informal telah mengadopsi kebijakan QE walau dengan versinya sendiri. The Fed telah meningkatkan balance sheet-nya pada periode waktu belakangan ini dengan membeli surat-surat berharga termasuk surat utang (bond) sehingga meningkatkan jumlah uang yang beredar dalam pasar keuangan. Seperti halnya mata uang Yen, kebijakan QE akan menyebabkan US dollar melemah, tetapi ini adalah langkah yang perlu diambil oleh The Fed guna membuat perekonomian Amerika Serikat stabil, dan mencegah terjadinya deflasi.

Sumber : www.actionforex.com

Strategi Trading Ketika Terjadi False Break


False break adalah sinyal break (tertembusnya level support atau resistance) yang salah, atau disebut juga dengan sinyal break palsu. Kita membuka posisi buy atau sell saat harga telah menembus level support atau resistance, tetapi ternyata arah pergerakan harga berbalik, tidak sesuai dengan prediksi kita sebelumnya hingga stop loss kita kena. Tentunya kita tidak akan masuk jika kita tahu dengan pasti sinyal break yang bakal terjadi, tetapi kita tentu tidak bisa menghindari false break jika kita telah membuka posisi trading. Dalam seri tulisan ini dibahas mengenai beberapa jenis false break yang sering terjadi dan bagaimana seharusnya kita mengantisipasinya sebelum terlanjur masuk.   

False break bisa terjadi kapan saja akibat respon trader terhadap kondisi pasar hingga membuka posisi buy pada level harga tertinggi dan sell pada level harga yang paling rendah. False break bisa dianggap sebagai ‘tipu muslihat’ pasar. Pasar menguji suatu level support atau resistance yang telah ditembus sebelum akhirnya berbalik arah, atau gerak harga pasar tidak berlanjut diluar level yang telah diuji, tetapi kembali ke area semula dan membiarkan keadaan tersebut sebagai sinyal palsu atau false break.

Keadaan ini sering terjadi pada pasar yang normal, baik ketika pasar sedang ‘tenang’ ataupun saat terjadi rilis berita fundamental yang penting. Gambar dibawah adalah contoh keadaan false break pada level resistance. Keadaan sebaliknya juga bisa terjadi pada level support.

  

Range
: apakah pasar bergerak dalam range trading yang jelas? Mungkin kondisi pasar benar sideway (ranging) tetapi range trading-nya kurang jelas.

Jarak order yang aman: apakah order untuk membuka posisi sudah pada jarak yang cukup aman? Mungkin kita membuka posisi pada jarak yang terlalu dekat dengan batas range hingga berpotensi untuk terjadi koreksi atau retracement.

Indikator teknikal: apakah indikator teknikal telah mengisyaratkan terjadinya breakout yang valid?, misalnya indikator ADX untuk mengetahui kekuatan trend, atau garis moving average sebagai level support/resistance dinamis yang telah ditembus.

Formasi price action: apakah pada level tersebut terbentuk setup price action yang mendukung keadaan break yang sedang terjadi. Perhatikan formasi candlestick yang terjadi pada pergerakan harganya.

Melihat pada time frame yang lebih tinggi: apakah pada time frame yang lebih tinggi juga terjadi breakout? Jika ya maka validitas breakout cukup besar. Jika pada time frame tinggi terjadi trend yang sebaliknya (counter trend), maka perlu dipertimbangkan lagi untuk membuka posisi.

Dari karakteristik pola pergerakan harga pasar yang biasanya terjadi, break yang pertama kali biasanya bukan yang sebenarnya atau cenderung sebagai sinyal break palsu. Pasar biasanya menguji level tersebut sebelum benar-benar ditembus. Break yang terjadi berikutnya akan lebih besar validitasnya. Jika Anda ragu atau kurang yakin tetapi tetap ingin masuk, maka sebaiknya trading dengan resiko yang kecil dengan ukuran lot (position size) kecil.
Yang mesti Anda hindari adalah menggeser stop loss ke level yang lebih besar dengan harapan harga akan kembali bergerak pada arah yang Anda prediksikan. Jika memang yang terjadi adalah false break Anda pasti akan loss, dan hal tersebut adalah kebiasaan yang mesti dihindari dalam trading.

Diatas telah dibahas cara sederhana untuk memproteksi keadaan false break dan meminimalisir loss jika sudah terlanjur masuk pasar. Agar tidak ‘kecolongan’ ketika Anda membuka posisi trading, pada bagian ini dibahas beberapa jenis false break dan cara untuk mengantisipasinya. Sebenarnya banyak trader forex yang berpengalaman bisa dengan cepat mengenali terjadinya false break, dan memanfaatkannya guna meraup profit. Berikut beberapa jenis false break yang sering terjadi di pasar:

1. Bull trap dan bear trap pada level resistance atau support
Bull trap atau bear trap biasanya terdiri dari formasi 1 sampai 4 bar candlestick pada level resistance atau support yang bersifat sebagai false break (trap artinya jebakan). False break biasanya terjadi setelah uptrend atau downtrend yang kuat dan harga mendekati level resistance atau supportnya. Trader cenderung berasumsi bahwa level resistance atau support akan segera ditembus karena pergerakan trend yang kuat dan agresif. Segera setelah mereka membuka posisi buy atau sell, harga berbalik arah dengan membentuk formasi bull trap atau bear trap (gambar bawah)
2. False break konsolidasi pada pasar sideway
False break yang terjadi saat pasar dalam keadaan sideway atau ranging, dan berkonsolidasi untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Trader sering terjebak ketika level support atau resistance sudah ditembus. Cara yang paling mudah untuk menghindari jebakan ini adalah dengan menunggu hingga bar berikutnya setelah bar yang menembus level support/resistance selesai terbentuk, dengan penutupan harga diluar level yang ditembus. Paling bagus (valid) adalah jika terjadi pada chart daily. Jika Anda trading dengan menggunakan metode price action, Anda bisa mengkonfirmasikannya dengan formasi pin bar yang mungkin terbentuk.
3. False break  pada formasi fakey bar
Dengan terbentuknya formasi fakey (false) bar pada setup price action yang memang mengindikasikan sinyal palsu, kita bisa membuka posisi pada bar setelah inside bar, atau lebih valid jika terjadi pin bar setelah inside bar. (Baca: Strategi trading dengan price action : pin Bar, fakey dan inside bar).
Mengantisipasi false break dengan price action
Dengan metode price action, kita bisa menguji validitas break yang terjadi, terutama pada time frame daily. Kalau memang terjadi false break, kita bisa membuka posisi yang berlawanan jika kondisi pasar memang mendukung. Untuk level support/resistance yang tertembus, perhatikan setup price action yang terbentuk, terutama ‘ekor’ candlestick yang dekat pada level tersebut.
Bagaimana reaksi harga yang menembus level itu? Apakah harga penutupan daily-nya berada diluar level yang ditembus?, jika tidak biasanya akan terjadi retracement yang kuat atau bahkan reversal atau pembalikan arah trend. Sebagai contoh false break yang terjadi pada chart daily EUR/USD seperti pada gambar berikut, dimana false break mengakibatkan reversal ke arah downtrend dengan kuat.
Contoh dari histori George Soros ketika ‘menggoyang’ Bank of England
Contoh penting false break dalam trading forex adalah ketika trader legendaris George Soros ‘menggoyang’ Bank of England (BoE) pada 16 September 1992. Lihat gambar chart GBP/USD berikut:
GBP/USD break kearah uptrend dengan terbentuknya level-level puncak yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika George Soros melakukan sell GBP dengan volume yang sangat besar, harga turun dengan range yang sangat besar pula. Terlihat pada chart tersebut telah terjadi false break pada formasi fakey bar.

Sumber : Nial Fuller - www.learntotradethemarket.com

Kisah Trader Sukses - Larry Williams


Para trader yang telah sukses dalam karirnya sebagian besar mendedikasikan pengetahuan dan waktunya guna mengembangkan dunia trading dan investasi seperti mendirikan perusahaan konsultan investasi, menjadi komentator di berbagai media investasi dan bisnis, atau menulis buku. Kita bisa mengambil manfaat positif dari kisah perjalanan karir dan pandangan mereka tentang dunia trading dan investasi.

Larry Williams: Cara berlatih trading yang efektif adalah dengan berlari

Larry Williams, seorang trader terkenal yang sekaligus juga seorang pelari marathon melihat kesamaan antara trader yang sukses dan pelari marathon yang sukses. Kesamaannya ada pada rasa lelah dan kesakitan yang dialami. “Setiap orang akan bisa berlari marathon jika mau berlatih dengan keras dan benar, sama dengan trading, jika Anda mau berlatih, Anda tentu akan menjadi trader yang tangguh dan sukses” kata Williams.
“Ketika Anda berlari marathon, akan selalu ada rute sulit yang tidak Anda sukai. Bahkan mungkin Anda merasa seperti berada di neraka ketika melewati rute itu, tetapi Anda harus bisa tetap bergerak maju. Kaki Anda yang satu harus tetap Anda gerakkan didepan kaki yang lain, harus, ingat Anda sedang berlari. Sama halnya dengan trading. Anda harus tetap melakukan trade, buy atau sell, ingat Anda sedang trading,” jelas Williams. “Pernah ketika sedang berlomba, kaki saya tiba-tiba kejang dan agak sakit. Saya memperlambat gerakan hingga rasa sakitnya berkurang. Sama juga dengan trading, ketika saya sedang loss, saya istirahat sebentar dan meneliti kembali kenapa posisi saya bisa loss.” tambahnya.
       
Larry Williams memulai trading di pasar saham pada awal tahun 60-an. Sepuluh tahun kemudian seorang teman menganjurkan agar ia mempertimbangkan untuk masuk ke pasar komoditi karena dengan modal yang sama return yang diperoleh bisa lebih besar. William menuruti anjuran itu dan benar ia mendapatkan return yang jauh lebih besar dibandingkan trading di pasar saham. Pada tahun 1987, Williams mengikuti program kejuaraan dunia trading pada Robbins World Cup Trading Championship (diselenggarakan oleh Robbins Trading Company) dan ia keluar sebagai pemenang setelah dalam 12 bulan bisa mengubah modal awal $10,000 (duit beneran) menjadi $1,100,000 atau profit sebesar 10900%, sebuah prestasi yang belum tertandingi pada waktu itu.
Williams menyebut dirinya sebagai trader "contextual” yang menggunakan kombinasi analisa teknikal dan fundamental. Saat ini ia trading terutama untuk dirinya sendiri disamping melakukan riset pasar dan menulis buku. Ia adalah pembuat indikator teknikal Ultimate Oscillator dan Williams %R yang dalam platform Metatrader dikenal sebagai Williams’ Percent Range atau %R. Menurutnya %R adalah bentuk lain dari indikator stochastics, tetapi lebih mudah untuk diikuti. “Saya berasumsi pada sentimen buy di pasar, oleh sebab itu penutupan harga akan selalu dekat dengan level tertingginya. Untuk menggunakan sebuah indikator, Anda harus selalu merujuk pada sentimen pasar” jelas Williams mengenai indikator %R-nya.
Tinggal di Virgin Islands Amerika Serikat, ia juga seorang politikus Partai Republik. Saat ini ia trading terutama untuk dirinya sendiri, dan fokus pada Treasury Bond Futures, S&P 500 dan forex. Time frame trading yang digunakan adalah daily (1-day) dan 3-days. Mengenai pasar forex saat ini Williams berkomentar “Pasar forex saat ini telah cukup mapan dan stabil. Yang membuat para fund manager kecewa adalah karena program trend-following mereka tidak bekerja sebagaimana mestinya.”
Apa pandangan Larry Williams tentang bisnis trading? “Yang saya sukai dalam bisnis ini adalah selalu berfikir kedepan. Kebanyakan orang berfikir tentang keadaan saat ini, tetapi para trader harus memikirkan apakah akan ada hujan 6 bulan dari sekarang? Apakah akan terjadi perang 10 bulan dari sekarang? Apakah akan ada kelaparan 2 tahun dari sekarang? Mungkin tempat yang cocok bagi saya. Saya sedang hidup di masa yang akan datang.” katanya. Tetapi, “trading sangat rentan dengan emosi. Anda harus bisa membiasakan diri untuk tidak emosional ketika trading, atau Anda akan mengalami tekanan mental yang terus-menerus.” tambahnya.
Apa nasehatnya untuk para trader pemula? “Seperti lari marathon, mulailah dengan perlahan. Sediakan waktu dan dana yang cukup untuk belajar dan berlatih. Biaya untuk belajar akan sangat murah dibandingkan pengalaman dan pengetahuan yang akan Anda peroleh dalam bisnis ini. Ketika trading, jika Anda merasa ada yang tidak beres, segera cut-loss, tetapi biarkan profit Anda ‘berlari’, Anda mesti mempunyai target.” katanya. “Pernah dalam kurun waktu tertentu saya jatuh bangun dalam trading. Hampir semua teman trader yang saya kenal telah meraih sukses dan terus maju dengan cepat.” Bagaimana ia menghadapi saat-saat itu? “Berlari.” kata Williams.

Sumber : News For The Financial World

Kisah Trader Sukses - Alexander Elder

Para trader yang telah sukses dalam karirnya sebagian besar mendedikasikan pengetahuan dan waktunya guna mengembangkan dunia trading dan investasi seperti mendirikan perusahaan konsultan investasi, menjadi komentator di berbagai media investasi dan bisnis, mengembangkan software trading atau menulis buku. Kita bisa mengambil manfaat positif dari kisah perjalanan karir dan pandangan mereka tentang dunia trading dan investasi.

Alexander Elder - psikiater yang mahir mentransfer pengetahuan trading

Dr. Alexander Elder adalah seorang trader profesional, penulis buku mengenai trading dan investasi, trainer, konsultan dan motivator trading terkemuka. Diantara puluhan bukunya yang terkenal antara lain ‘Trading for a Living’ (international best seller 1993), ‘Come into My Trading Room’ (Barron's 2002 Book of the Year) dan ‘Entries & Exits’. Tinggal di New York City dan trading diberbagai jenis pasar, Elder mempelopori sekolah khusus bagi para trader yang dinamakan ‘Traders’ Camp’ dan ‘Spike Group’. Ia sangat handal dalam mengajar dan berbicara di berbagai seminar. Ide dan caranya dalam mentransfer pengetahuan trading banyak mendapat pujian dan banyak ditiru. Disamping trading untuk dirinya sendiri dan para client, Dr. Elder memang komit dalam membantu para trader agar bisa mumpuni dan percaya diri dalam trading, seperti motto pada website perusahaannnya elder.com : Education for Intelligent Traders.

                  

Latar belakang Alexander Elder adalah seorang dokter medis dan sekaligus psikiater. Lahir di Leningrad, Russia dimana ia belajar ilmu kedokteran. Pada usia 23 tahun, ia memperoleh suaka politik dari pemerintah Amerika Serikat dan bekerja di New York City sebagai psikiater serta mengajar di Columbia University. Disinilah Elder mulai tertarik dengan perdagangan di pasar saham. Saham pertama yang dibelinya adalah KinderCare. Setelah belajar mengetahui seluk beluk trading di pasar saham, ia mulai fokus juga di pasar option. Menurut Dr. Elder yang juga menciptakan metode ‘Triple Screen Trading System’ ini, yang paling penting dalam trading adalah psikologi (mungkin karena latar belakangnya yang psikiater), baru kemudian penggunaan kombinasi analisa teknikal dan money management yang tepat.

Dr.Elder mengerti dengan detail apa yang mendasari alur transaksi dalam trading, bagaimana seharusnya cara berpikir sebelum memulai transaksi, ketika punya posisi trading dan setelah menutup sebuah transaksi. Menurutnya ada 3 tingkatan dalam trading:
1. Trader yang mahir dalam analisa teknikal tetapi tidak memahami psikologi dalam trading yang merupakan komponen utama dalam menentukan cara berpikir dan mengendalikan emosi.
2. Trader yang menyadari bahwa meskipun ia mahir dalam analisa teknikal tetapi hal itu tidak menjamin sukses dalam trading. Pada tingkatan ini trader akan mencari dan mencoba cara-cara baru serta menghindari cara lama yang telah gagal. Dr. Elder menyebut ini sebagai kebangkitan pemahaman psikologi dalam trading.
3. Trader yang telah memahami bahwa untuk sukses dalam trading diperlukan pengendalian emosi yang benar dan strategi money management yang disiplin. Tanpa mengendalikan emosi trader akan sulit untuk mengantisipasi pergerakan harga selanjutnya, dan tanpa money management yang disiplin trader akan  menggunakan emosinya untuk ‘memaksakan’ keuntungan, hal yang sangat alami. 

Seperti yang ditulis dalam bukunya ‘Trading for a Living’, Dr.Elder berujar “Pada mulanya saya trading dengan lambat dan tidak berkembang sampai saya menyadari bahwa kunci untuk sukses dalam trading ada di kepala saya, bukan di dalam komputer. Ada yang mengatakan bahwa trading itu gampang-gampang susah, itu tidak benar. Untuk sukses dalam trading dibutuhkan pengetahuan yang dalam dan disiplin yang tinggi. Mitos bahwa saya rugi besar karena tidak tahu rahasia dalam trading, itu sama sekali keliru. Rahasia dalam trading itu hanya fantasi. Kalaupun ada, hanya ada 3 rahasia: psikologi, analisa pasar dan sistem trading serta money management. Semuanya mesti dilakukan dengan sangat disiplin.”
Selain di pasar saham dan option, Dr.Elder juga trading di pasar futures yang menurutnya paling menguntungkan. Disamping terus menulis buku, ia juga praktek sebagai psikiater secara part-time selepas jam trading.

Sumber : www.forextraders.com
                www.elder.com

Alasan Kenapa Trader Profesional Bisa Profit

Banyak trader forex yang selalu berjuang dengan susah payah mengira bahwa untuk memperoleh profit yang konsisten dalam trading adalah hal yang sulit dan lebih merupakan suatu kebetulan. Berjuang dengan susah payah bisa berarti berusaha terus menerus menemukan metode dan strategi yang pas dengan trial and error, atau mencoba beberapa paket software trading dan robot. Walau begitu, banyak diantara mereka yang gagal menghasilkan profit yang konsisten. Sebaliknya para trader profesional yang seakan trading dengan santai dan tanpa beban bisa memnghasilkan profit dengan konsisten. Apakah ada yang salah?

Sebenarnya banyak trader yang telah mengetahui bagaimana menghasilkan profit yang konsisten, tetapi mereka tidak menerapkan pengetahuan tersebut dengan proporsional dan tepat. Semua trader forex tentu termotivasi untuk memperoleh profit, tetapi fokus mereka kurang tepat. Motivasi trader profesional terfokus pada perolehan hasil dalam jangka panjang, sementara trader pada umumnya termotivasi untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam jangka pendek. Mungkin karena alasan ini, para trader profesional seolah tampak santai dan tanpa beban. Selain fokus pada hasil jangka panjang sebagai alasan utama, ada baiknya kita mengetahui beberapa alasan yang membuat trader profesional bisa memperoleh profit dengan konsisten.

                                   

1. Trader profesional tidak memerlukan banyak waktu untuk analisa pasarMungkin kita mengira kita kurang banyak meluangkan waktu guna mendalami berita-berita ekonomi yang mempengaruhi pasar hingga kita selalu lambat mengantisipasi arah pergerakan harga yang berujung pada hasil trading yang tidak konsisten. Disadari atau tidak, banyak diantara kita yang telah meluangkan waktu lebih banyak dari para trader profesional untuk menghimpun data dari berbagai sumber berita. Trader profesional juga melakukan itu, tetapi hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Yang penting bagi mereka adalah sinyal untuk trading, yang berarti layak atau tidaknya untuk membuka sebuah posisi, menutup posisi, atau menambah posisi baru pada kondisi pasar pada saat itu.

2. Profesional selalu trading berdasarkan apa yang mereka lihat, bukan pada apa yang mereka kira akan terjadiDengan kata lain mereka trading dengan obyektif. Banyak trader yang tergoda untuk memperkirakan apa yang bakal terjadi di pasar setelah membaca dan menganalisa perkembangan sebuah berita ekonomi. Hal ini sering membuat trader merasa sangat optimis dan melakukan pelanggaran pada strategi managemen resiko dengan misalnya melipat gandakan ukuran lot trading, atau menambah posisi baru hingga over-trading. 

Sebaliknya, trader profesional mengetahui bahwa mereka tidak akan pernah tahu dengan pasti kemana arah gerak pasar, sejelas apapun petunjuk dari berita ekonomi. Dalam hal ini tentu mereka belajar dari pengalaman, oleh sebab itu mereka sangat patuh pada managemen resiko yang telah disepakati. Semua berita selalu dikombinasikan dengan sinyal trading yang layak. Mereka tidak memaksakan diri atau memasang target untuk ‘harus masuk pasar’. Trader profesional tahu dengan pasti apa yang mereka inginkan dari pasar, dan hanya akan trading jika pasar telah memberinya peluang.

3. Trader profesional tidak terlalu bergantung pada indikator teknikalBanyak trader forex yang sebenarnya menyadari bahwa dengan banyaknya indikator pada chart trading akan membuat bingung dan cenderung over analyzing. Menurut penuturan seorang trader profesional, pertama kali yang mereka lihat dalam chart trading adalah membaca pergerakan harga seperti apa adanya, dengan hanya menandai level-level support dan resistance. Kemampuan untuk membaca pergerakan harga secara ‘telanjang’ (naked price), tanpa indikator, adalah juga sebuah analisa teknikal. Tentu saja mereka tidak mengabaikan indikator teknikal sama sekali, tetapi mereka menggunakannya sesuai dengan kebutuhan dengan proporsional.

Biasanya indikator yang sering digunakan adalah moving average sebagai level support dinamis atau resistance dinamis. Mereka tidak terlalu bergantung pada indikator teknikal untuk mendapatkan ‘holy grail’atau kombinasi beberapa indikator yang selalu digunakan dalam sistem tradingnya dan diharapkan selalu benar. Mereka tahu bahwa sebagian besar indikator teknikal terbentuk setelah terjadinya pergerakan harga (bersifat lagging). Holy grail mereka adalah pada risk/reward ratio.

4. Trader profesional tidak bergantung pada software trading dan robotWalaupun di pasaran banyak penawaran software trading dan robot yang namanya kadang cukup bombastis, sangat jarang trader profesional yang menggunakannya. Mereka lebih percaya pada pikiran dan analisanya sendiri. Software trading, seperti halnya juga software lainnya, berisi dengan program-program yang mengerjakan perintah yang sama secara berulang-ulang. Pada kenyataannya, pergerakan pasar sangat dinamis dan kecil kemungkinannya untuk mengulangi keadaan yang sama berkali-kali. Pada suatu keadaan tertentu bisa saja program tersebut bekerja sesuai harapan, tetapi tidak menjamin akan selalu bekerja dengan baik pada pergerakan pasar yang cenderung acak (random) dan sarat dengan pengaruh emosional para pelakunya. Bagi trader profesional, untuk memprediksi pergerakan harga pasar yang dinamis dan cenderung acak nalar yang obyektif adalah sarana trading yang terbaik.


                                              


5. Trader profesional tidak terlalu fokus pada faktor fundamental
Faktor fundamental sudah barang tentu tidak bisa diabaikan dalam, bahkan bisa dikatakan sebagai penggerak utama pasar. Trader profesional menggunakan analisa fundamental sebagai konfirmasi dari apa yang dilihatnya dalam chart trading. Mereka tahu bahwa pengaruh faktor fundamental pada pergerakan harga tidak selalu pasti. Banyak faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pasar. Rilis data GDP yang meningkat misalnya, tidak begitu saja membuat mata uang suatu negara langsung menguat, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi termasuk emosi para pelaku pasar.

6. Trader profesional lebih percaya pada dirinya sendiri, bukan pada para pakarAda trader yang membuka posisi trading karena mendengar atau membaca komentar seorang pakar dari media mengenai sesuatu yang dianggap penting. Selang beberapa waktu kemudian pakar yang lain memberi opini yang berlawanan dengan berbagai alasan. Trader tersebut menjadi khawatir dengan posisinya, cabut atau terus? Trader profesional selalu membuat keputusan tradingnya sendiri dan hampir tidak terpengaruh oleh komentar para analis atau pakar. Mereka percaya pada cara analisanya sendiri sesuai dengan strategi trading yang telah disepakati karena hanya mereka sendirilah yang tahu persis keadaan account dan sistem portofolio dalam tradingnya.

7. Trader profesional selalu realistisAnda tidak akan pernah menjadi trader profesional jika Anda tidak realistis dalam trading. Realistis dalam trading maksudnya menerapkan managemen resiko yang proporsional pada balance account Anda. Jika modal Anda $10,000, apakah Anda akan mempertaruhkan seluruhnya (100%) hanya dalam sekali trade?, atau mengambil resiko 30% per trade? atau 5%? Tentu yang tahu Anda sendiri. Jika dana tersebut bukan dana yang menganggur (disposable income) Anda tentu akan sangat berhati-hati dalam menentukan resiko.

Trader profesional biasanya juga menggunakan sistem portofolio berdasarkan diversifikasi instrument trading pada jenis pasar yang berbeda. Khusus di pasar forex, diversifikasi bisa dilakukan dengan tidak hanya trading pada satu pasangan mata uang saja untuk mengurangi kemungkinan resiko. Diversifikasi adalah salah satu cara yang realistis dalam trading.

8. Trader profesional bekerja menurut rencana trading dan disiplinAnda mesti mempunyai rencana trading yang jelas dan dilakukan dengan disiplin agar mencapai hasil yang maksimum dalam trading. Rencana trading yang jelas juga akan mengurangi pengaruh emosi ketika trading. Selain itu Anda juga mesti membuat jurnal trading sebagai umpan balik (feedback) yang mengevaluasi semua hasil trading. Tanpa evaluasi Anda tidak tahu tingkat kemajuan yang telah dicapai. Trader profesional telah lama melakukan langkah-langkah tersebut sehingga mereka bisa bekerja dengan target yang jelas.

Sumber : Nial Fuller - www.learntotradethemarket.com

Kisah Trader Sukses - Richard Donchian

Para trader yang telah sukses dalam karirnya sebagian besar mendedikasikan pengetahuan dan waktunya guna mengembangkan dunia trading dan investasi seperti mendirikan perusahaan konsultan investasi, menjadi komentator di berbagai media investasi dan bisnis, mengembangkan software trading atau menulis buku. Kita bisa mengambil manfaat positif dari kisah perjalanan karir dan pandangan mereka tentang dunia trading dan investasi.

Richard Donchian - bapak ‘trend following’

Richard Davoud Donchian (1905-1993) adalah seorang trader profesional di pasar komoditi dan futures pada jamannya. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan cara trading dengan mengikuti arah trend (trend follower) dan hingga kini dikenal sebagai bapak trend following dari berbagai aliran trend following yang ada di dunia trading, misalnya turtle trading system atau sistem trading ala kura-kura. Ia juga adalah pelopor penerapan ilmu managemen pengelolaan dana dalam trading futures. Futures Inc., perusahaan yang ia kelola sejak tahun 1949 dan termasuk perusahaan investasi pertama yang go public, telah memberikan banyak sumbangan pada ilmu money management dalam trading futures.

                                              

Richard Donchian lahir di Connecticut, AS. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi di Yale University pada tahun 1928, ia membantu bisnis permadani orang tuanya. Pendiriannya tiba-tiba saja berubah setelah dengan tidak disengaja ia membaca buku ‘Reminiscences of a Stock Operator’ yang ditulis oleh Jesse Livermore, trader terkenal saat itu yang juga seangkatan Donchian. Menurut Donchian yang pernah bertugas di Angkatan Udara AS selama perang dunia kedua dan pernah bekerja sebagai Statistical Control Officer di Pentagon ini, tidak ada bisnis yang begitu menjanjikan seperti trading. Ia segera banting stir dengan langsung terjun ke pasar saham (waktu itu belum ada account demo). Tidak seperti Jesse Livermore yang bisa meraup keuntungan jutaan dollar saat crash pasar saham AS tahun 1929, Richard Donchian malah kehilangan seluruh modal investasinya. Loss total.

Ia segera kembali bekerja di perusahaan permadani orang tuanya, Samuel Donchian Rug Company, sambil mempersiapkan diri untuk come back di trading. Richard Donchian, yang namanya juga tercantum dalamWho's Who in America dan penerima penghargaan ‘Most Valuable Performer Award’ untuk kontribusinya dalam money management ini percaya bahwa pemahaman analisa teknikal yang benar akan sangat menguntungkan. Ketika ia mulai trading lagi di pasar komoditi, ia telah menggunakan metodenya sendiri yang dinamakan ‘trend following trading method’. Metode ini disusun berdasarkan perhitungan tertentu pada indikator moving average hingga bisa menentukan timing untuk entry bilamana harga komoditi sedang bullish atau sedang bearish. Salah satu variasi dari metode ini adalah Donchian Channel Indicatoryang menunjukkan tingkat volatilitas pasar. Walau tidak sama persis dengan indikator Bollinger band, banyak trader yang telah menggunakannya mengklaim bahwa Donchian indicator lebih efektif dalam menentukan timing untuk entry.

Oleh para murid dan pengikutnya, Richard Donchian yang pernah menjabat sebagai Director of Commodity Research pada Hayden Stone Inc. ini disebut sebagai ‘market master’ dan ‘true pioneer of technical analysis’ mengingat kenyataan bahwa banyak metode trading dan beberapa indikator teknikal yang ada sekarang adalah variasi dari hasil penelitiannya. Meski tidak khusus menulis buku, sejak tahun 1960 Donchian menerbitkan bulletin mingguan ‘Commodity Trend Timing’ yang mengulas berbagai isu tentang metode trading dan analisa teknikal. 

Dalam salah satu tulisannya Donchian menyebut beberapa tip untuk trading yang menguntungkan:
1. Jangan pernah membuka posisi trading dengan spontan hanya karena opini publik atau para pakar. Walaupun jika itu benar, hanya ada 2 kemungkinan: Anda terlalu cepat atau ketinggalan. Jika terlalu cepat, opini segera berubah. Jika Anda ketinggalan, apakah pasar akan menunggu Anda?
2. Jangan masuk saat volatilitas pasar rendah. Anda bisa menunggu dengan melihat arah indikator teknikal tertentu. Ambil setting dengan periode sekecil mungkin. Gerakan yang besar dimulai dari gerakan-gerakan kecil pada periode pendek. Cobalah.
3. Batasi resiko dan maksimalkan profit. Yang ini mutlak dilakukan
4. Bedakan trend mayor dan trend minor. Jika trend minor sudah break, bersiaplah untuk membuka posisi. Pasar selalu bergerak dalam bentuk trend. Jika Anda tidak mengenal trend, maka Anda tidak mengenal pasar.

Yayasan dengan nama The Richard Davoud Donchian Foundation didirikan oleh para pengikut dan murid-muridnya setelah Richard Donchian wafat di tahun 1993 guna membantu para trader untuk bisa mencapai sukses.


Sumber : www.fxfisherman.com

Trading Forex Dan Gambling


Dari beberapa survey kebanyakan trader forex yang gagal menghasilkan profit dengan konsisten mempunyai cara pikir seperti gambler (penjudi). Mereka menganggap pasar seperti layaknya arena bermain casino dan bukan arena bisnis. Trading dengan cara pikir seperti gambler dalam jangka panjang biasanya merugi, sedang cara berpikir ‘trading adalah bisnis’ lebih bertahan lama dan tidak sedikit yang bisa menghasilkan profit dengan konsisten. Berikut karakteristik yang membedakan keduanya.

Karakteristik seorang gambler
Gambling seperti candu, dan seorang gambler sejati mempunyai ketergantungan untuk selalu melakukan gambling. Mereka melakukan hal yang sama dengan berulang-ulang hanya untuk memperoleh kepuasan dan rasa euforia yang tinggi, baik menang maupun kalah. Para gambler menganggap bahwa gambling bukanlah profesinya, melainkan hanya hobby. Sayangnya hobby ini telah membuat mereka kecanduan dengan kompensasi kenikmatan yang dibayar mahal, bahkan kadang harus hutang agar mereka bisa menikmati hobbynya tersebut. Yang membuat mereka kecanduan adalah ‘harapan’ yang selalu ada pada permainan gambling itu sendiri, oleh karenanya mereka tidak peduli apalagi menyesal ketika kalah. Rasa ‘mengharapkan’ itulah salah satu yang mereka nikmati. Kenapa banyak gambler yang jatuh miskin bahkan habis-habisan? Karena para bandar gambling tidak bodoh, mereka memanfaatkan cara pikir gambler untuk mengeruk profit sebesar-besarnya

                                             

Sangat disayangkan banyak trader forex yang menganggap pasar sebagai arena gambling. Godaan untuk kaya dengan cepat bisa menimbulkan harapan yang kurang realistis. Mirip seperti gambler, mereka kecanduan pada rasa ‘mengharap’, dan rasa euforia yang berlebihan ketika profit. Orientasi mereka adalah hasil yang akan diperoleh dalam jangka pendek. Money management dan rencana trading cenderung diabaikan. Agar bisa menikmati permainan, biasanya mereka trading dengan teknik scalping pada time frame rendah. Tidak semua trader yang menggunakan teknik scalping adalah gambler, tetapi cara pikir gambler cenderung menggunakan teknik scalping.

Karakteristik seorang trader
Trader selalu menganggap pasar forex sebagai lahan bisnis. Aktivitas trading adalah melakukan transaksi bisnis, jual beli. Setiap bisnis selalu ada resiko oleh karena itu dibutuhkan sebuah money management dan rencana bisnis (dalam hal ini rencana trading) yang jelas. Paling tidak harus bisa membatasi resiko agar bisnis bisa terus berjalan. Perhitungan modal dan rencana return (pendapatan) yang bakal diperoleh mesti jelas agar tidak merugi atau bahkan bangkrut. Orientasi hasil yang akan diperoleh selalu dalam jangka panjang. Selain itu ereka mempunyai metode dan strategi trading yang jelas dan teruji, dan apapun metodenya, mereka tidak kecanduan untuk sering-sering entry. Membuka posisi berarti membuat transaksi bisnis, oleh karenanya mesti diperhitungkan masak-masak.

Mengubah cara pikir gambler ke cara pikir trader
Untuk mengubah cara berpikir seorang gambler dalam trading forex tidak bisa instan, diperlukan waktu untuk transisi. Pada pokoknya hal-hal yang mesti diperhatikan adalah:
- Melihat trading forex adalah sebuah bisnis, untung dan rugi, bukan tebak-tebakan atau pertaruhan(betting) menang atau kalah.
- Tidak menaruh harapan pada pasar, karena pasar memang tidak bisa diharapkan.
- Menargetkan hasil trading secara keseluruhan dalam jangka panjang, bukan mengharapkan hasil jangka pendek dengan sekali atau 2 kali entry.
- Realistis pada modal yang digunakan untuk trading dengan tidak menggunakan ukuran lot yang terlalu besar ketika entry.
- Membatasi resiko dan menerapkan money management yang disiplin

Sumber : Nial Fuller - www.learntotradethemarket.com